“sahabat itu hanya ada satu dalam dirimu”
Pernahkah kalian mendegarkan pepatah berbicara seperti itu?
Yaa,
aku yakin kaya nya sedikit sekali dari kalian yang tak pernah dengar kalimat
itu. Dan pasti kalian juga mempunyainya. Sahabat, temen dan kawan menurutku berbeda yaa.
Kali ini sepertinya aku tak membuat puisi tentang sahabat atau cerita fiksi seperti novel-novel yang dijual diluar sana, hehehe.
Kali ini sepertinya aku tak membuat puisi tentang sahabat atau cerita fiksi seperti novel-novel yang dijual diluar sana, hehehe.
aku hanya ingin sedikit bercerita atau bahkan
membuktikan sebuah kalimat dari pepatah tersebut.
Aku percaya dengan ucapan pepatah yang satu itu. Karena memang
aku hanya mempunyai satu sahabat, bahkan dia lebih dari seorang sahabat. Aku mengenalnya memang bukan sejak aku baru bisa
berdiri, bukan sejak aku merasakan bangku sekolah menengah pertama, atau bahkan
bukan sejak aku merasakan cinta pertama.
Tetapi, aku mengenal nya ketika aku merasakan bisa menjadi
diriku sendiri, bisa bertukar pikiran, mengisi dan mengerti satu sama lain.
Entah bagaimana cerita awalnya yang membuat kami bisa
menjadi sepasang sahabat, yang aku tau hanyalah ketika bersamanya aku menjadi
pribadi yang lebih baik.
Berapa tahun, berapa bulan, berapa minggu, berapa jam,
bahkan berapa detik tak terasa kami telah melaluinya bersama-sama. Canda, tawa,
sedih bahkan berbeda pendapat pasti nya kami pernah merasakan. Karena itu yang
membuat kami bisa bertahan untuk tetap saling support satu sama lain.
Aku yakin, beberapa orang di dunia ini mempunyai impian simple
tapi membutukan perjuangan untuk menggapainya. Yaa, salah satu dari beberapa
orang itu adalah aku, dan sahabatku.
Kami sama-sama mempunyai impian simple, aku ingin menjelajah
benua eropa, dan Tiwi (sahabatku) ingin sekali menginjakkan kaki nya ke salah
satu benua eropa yaitu Perancis.
Yaa, ada kemiripan dari impian kami berdua. Dan aku yakin,
di dunia ini tidak da yang kebetulan. Tuhan YME tak ingin aku menggapai impian
ku sendirian, Dia tak ingin aku pergi sendirian. Lalu Dia mengirimkan seorang
sahabat untuk membantu dan menemaniku menggapai impian itu. Tentu untuk
menggapai sebuah impian itu tak ada yang mudah, butuh niat-usaha-doa. Niat nya
kami sudah melaksanakan, tinggal usaha dan doa untuk mencapai impian itu. Doa sudah
pasti kami meminta kepada Allah, terutama ketika kami menjalankan kewajiban 5x
dalam seharinya. Dan usaha yang kami gapai tak hanya impian simple itu saja,
kami juga mempunyai impian-impian besar, dari yang sama (lagi) bahkan impian
yang beda. Sekali lagi, perbedaan yang ada di kami bukan alasan penghalan kami
untuk menggapai impian bersama.
Sampai akhirnya,
Allah menguji kami melewati
jarak ribuan kilometer, melewati jarak Allah ingin melihat seberapa kuat
persahabatan kami, seberapa kuat kami bisa tetap saling support, dan seberapa
kuat kami masih bisa bertahan untuk menggapai impian bersama.
Allah menempatkanku di Istimewanya kota impian Tiwi, dan
Tiwi ditempatkan dimana kami saling mengenal
Bukan, aku yakin Allah menempatkanku di kota impian tiwi
bukan untuk membuat Tiwi cemburu. Tapi Allah ingin membuka jalan agar Tiwi bisa
ke kota ini. Agar ada yang menunjukkan tempat indah, maupun menjaga Tiwi ketika disini. Karena ayah
Tiwi sangat menyayanginya, sehingga ada perasaan cemas ketika Tiwi pergi ke
suatu tempat yang asing. Dan mungkin itu adalah alasan Allah mengirimkan aku
untuk berada di kota ini, jadi ayah Tiwi tak perlu sangat mencemaskan nya lagi.
Ahhhh, terlalu banyak kalimat-kalimat yang ingin aku tulis
disini tentang aku dan Tiwi, memori itu berebut ingin dituliskan, sehingga
membuat ku menjadi sedikit sulit untuk mendeskripsikan tentang kami, karena
untuk mencurahkan kejadian yang terjadi tak semudah mengetik tulisan-tulisan ku
sebelumnya.
Kami hanya ingin membuktikan bahwa tak kan ada yang bisa
memutuskan persahabatan kami, sekalipun jarak 1685km yang sedang kami lalui. Impian
itu akan tetap kami gapai bersama, hanya saja plan yang sudah kami buat saat
sedang berdekatan akan sedikit berubah, menjadi plan selanjutnya. Yang jelas,
plan yang kami buat tak kan beda dari tujuan kami.
Sebenernya aku ingin sekali bercerita semakin banyak, tetapi
setelah melihat ke sebelah kanan ku. Teringat bahwa besok ada ujian dan tugas
yang belum aku kerjakan, jadi sepertinya ceritaku kali ini harus ku hentikan.
insyaAllah lain kali, akan ku ceritakan lagi bagaimana kabar kami sekarang.
Ohyaa ngomong-ngomong, apa kalian juga mempunyai cerita sama
seperti aku dan Tiwi?
Atau kalian mempunyai cerita bersama sahabat kalian yang
paling kalian ingat?
Boleh berbagi cerita jugaa di kolom komentar :)


