Minggu, 29 Mei 2016

Wanita Terhebat Yang Dikirim Tuhan

"sepucuk surat untuk seorang wanita yang ku sebut MAMA"


Sumber Gambar: Ibu-anak


Hai Mama, apa kabar?

Sedikit terasa ganjil saat aku lontarkan pertanyaan tersebut,

Kita satu rumah, tapi rasanya tak pernah ku tanya kabarmu.

Makanan yang kau sediakan di meja, tak lantas membuatku perduli denganmu.

Anak macam apa aku ini?

Maafkan aku ma :(




Kita tak banyak bicara, dan aku pun jarang meluangkan waktu untuk dirumah.

Aku lebih sering menghabiskan waktu ku diluar atau bahkan bermain.

Saat kita bertemu dan membuka mulut pun,

Hanya adu argumen yang ada.

Rasanya sulit untuk aku menahan sedikit emosi yang aku punya,

Perdebatan pun selesai ketika Aku mengulangi kata “maaf” ku yang berulang kali

Dan mama hanya tersenyum lalu mengatakan “tidak apa-apa”




Ohya, sedikit terbesit dalam pikiranku ketika aku belum ada di dunia ini,

Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu ma?

Apa saja hal ganjil yang aku lakukan saat berada dalam perutmu?

Seperti apakah bentukku ketika keluar dari rahimmu?

Satu lagi, Bagaimana perasaanmu ketika kau tau rasa sakitmu tak hanya derita saat melahirkan saja?

Tak bisa aku bayangkan bagaimana rasa sakit nya ma 

Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar nya dirimu selama ini.




Tapi harus aku akui juga,

Terkadang sikap ke-khawatiran yang mama punya itu sedikit membuatku heran

Mama sibuk menelponku, ketika aku belum pulang lebih dari jam 10 malam

Padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman,

Aku tau mama takut terjadi apa-apa denganku di jalan,

Tapi tenanglah ma, aku bisa menjaga diri.

Bukan kah mama yang mengajarkan ku untuk berani?

Ya aku tau, untuk mempercayai itu tidak mudah.

Tapi aku sudah besar yang membutuhkan sedikit kepercayaan yang mama punya




Ma, boleh kah aku bertanya lagi tentang pribadimu?

Cita-cita apakah yang mama impikan ketika seusiaku dan adek?

Dokter? Atau cita-cita yang berhubungan dengan seni, misalnya photografi atau penulis buku seperti layaknya wanita yang mencurahkan inspirasi nya di tulisan?

Maaf ma, mungkin karna aku mama harus berhenti menggapai impian muda mama.

Mama harus merawatku, membesarkanku dengan penuh kasih sayang.

Mama harus bekerja 2x lebih keras daripada biasa nya.

Pagi-pagi sekali mama harus bangun menyiapkan sarapan kami,

Lalu mama berbelanja agar ada persediaan makanan di rumah,




Ma, wajah mu mulai menua,

Terlihat ada keriput disana,

Aku sadar kini tenaga mu tak sekuat dulu.

Penyakit mulai mengerogoti tubuhmu,

Bahkan aku harus menahan sedih yang mendalam,

Ketika aku harus melihatmu menahan sakit dan terbaring di atas tempat tidur.

Tapi mama masih bisa tersenyum dan menanyakan apakah aku dan adek sudah makan?

Maaa, tenanglah! Aku dan adek sudah makan.




Kini izinkan aku untuk mengatakan sesuatu yang belum pernah aku sampaikan,

Aku tidak tau kapan kita harus berpisah,

Akan ada saatnya aku mengantarkan mu ke tempat terakhirmu,

Atau mungkin saja mama yang mengantarkan aku ke tempat terakhirku,

Kapan pun itu, hanya Allah yang tau

Aku tidak bisa membayangkan nya, bahkan untuk mengatakan nya saja sesungguhnya aku tidak sanggup.




Mamaaaaa,

Terimakasih sudah memutuskan untuk memilikiku,

Terimakasih sudah memperkenalkanku pada dunia ini,

Terimakasih sudah mengajarkan ku bagaimana cara berjuang,

Terimakasih untuk semua yang mama lakukan,

Tak dapat aku ucapkan satu persatu ucapan terimakasih untukmu.




Maafkan anak mu yang selalu bertindak semrawut,

Maafkan anak mu yang selalu berbeda pendapat denganmu,

Maafkan segala kesalahan yang diperbuat oleh anak-anak mu ya ma.




Ma, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku sampaikan,

Tapi aku terlalu malu untuk mengatakan nya langsung

Aku tidak ingin melihatmu menangis,

Bahkan membiarkan mu meneteskan air mata ketika membaca ini,




Kini aku memilih untuk melanjutkan pendidikan ku jauh dari mu,

Sungguh terasa sekali perbedaan dengan keadaan yang dimana ada mama disampingku,

Terimakasih sudah membiarkanku belajar banyak tentang hidup tanpa siapapun disampingku,

Dan jujur, ternyata aku yang sebesar ini masih butuh pondasi darimu,

Belum siap jika mama melepaskan seluruhnya tanpa ada siapapun disampingku.

Segalak apapun mama,

Secerewet apapun mama,

Mama akan tetap selalu menjadi wanita terhebat dan nomor satu untuk kami.

Panjang umur ya maa,

Mama harus melihat buah kesuksesan yang telah aku dapatkan dari dukungan dan dorongan dari mama,

Aku tidak bisa memilih siapapun yang akan menjadi ibuku,

Begtu juga pada mama, yang tak bisa memilih siapa yang akan keluar dari rahimmu.

Allah telah mempertemukan kita.

Aku bersyukur bisa mendapatkan ibu seperti mama 

Tersenyumlah ma,

Love you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar